Jumat, 11 Juli 2014

Makalah MRS - STANDAR PENGENDALIAN INFEKSI DAN PELAYANAN STERILISASI



KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam senantiasa kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Khususnya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini. Dalam makalah ini kami membahas mengenai Standar Pengendalian Infeksi dan Pelayanan Sterilisasi
Adapun penyusunan Makalah ini yaitu berdasarkan pada bahan-bahan yang penulis cari dari berbagai sumber. Penulis mencatat hal-hal yang berhubungan dengan pokok permasalahan yang dibahas. Dalam menyusun Makalah ini, penulis banyak menerima bimbingan dan petunjuk dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Dalam menyusun Makalah ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin, namun karena keterbatasan kemampuan penulis, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu penulis dengan hati yang lapang menerima saran dan kritik dari semua pihak.
Semoga Makalah ini dapat menjadi amal baik bagi penulis dan bermanfaat bagi pembaca serta mendapat ridho Allah SWT.
                                                                                                            Penyusun


Bandung,   juni 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Dalam Kamus Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan multiplikasi mikroorganisme dalam jaringan tubuh, khususnya yang menimbulkan cedera seluler setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin, replikasi intraseluler atau reaksi antigen-antibodi. Munculnya infeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan dalam rantai infeksi. Adanya patogen tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi.
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien dari rumah sakit pada saat pasien menjalani proses asuhan keperawatan. Infeksi nosokomial pada umumnya terjadi pada pasien yang dirawat di ruang seperti ruang perawatan anak, perawatan penyakit dalam, perawatan intensif, dan perawatan isolasi (Darmadi, 2008). Infeksi nosokomial menurut Brooker (2008) adalah infeksi yang didapat dari rumah sakit yang terjadi pada pasien yang dirawat selama 72 jam dan pasien tersebut tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi pada saat masuk rumah sakit.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1.      Definisi Pengendalian Infeksi
2.      Rantai Infeksi
3.      Cara penularan mikroorganisme
4.      Faktor yang mempengaruhi proses infeksi
5.      Infeksi nosokomial
6.      Sterilisasi dan desinfeksi
7.      Pencegahan infeksi
8.      Masalah- masalah pada pengendalian infeksi






1.3 Tujuan Penulisan
      Adapun yang menjadi tujuan penulisan makalah ini adalah:
1.      Mengetahui deinisi infeksi
2.      Mengetahuai Rantai Infeksi
3.      Mengetahui cara penularan mikroorganisme
4.      Mengetahui faktor yang mempengaruhi proses infeksi
5.      Mengetahui  Infeksi nosokomial
6.      Mengetahui Sterilisasi dan desinfeksi
7.      Mengetahui Pencegahan infeksi
      8.   Mengetahui masalah- masalah pada pengendalian infeksi





















BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Definisi Pengendalian Infeksi
 Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit (Potter & Perry, 2005).
Dalam Kamus Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan multiplikasi mikroorganisme dalam jaringan tubuh, khususnya yang menimbulkan cedera seluler setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin, replikasi intraseluler atau reaksi antigen-antibodi. Munculnya infeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor yang saling berkaitan dalam rantai infeksi. Adanya patogen tidak berarti bahwa infeksi akan terjadi.
Menurut Utama 2006, Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Secara umum, pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut infeksi nosokomial.
Infeksi nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh. Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self infection atau auto infection, sementara infeksi eksogen (cross infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan dari satu pasien ke pasien lainnya.

2.2      Rantai Infeksi
Menurut Perry Potter, 2005 proses terjadinya infeksi seperti rantai yang saling terkait antar berbagai faktor yang mempengaruhi, Proses tersebut melibatkan beberapa unsur diantaranya:


1.      Reservoir 
Merupakan habitat pertumbuhan dan perkembangan mikroorganisme dapat berupa manusia, binatang, tumbuhan, maupun tanah.
2.      Jalan Masuk
Merupakan jalan masuknya mikroorganisme ketempat penampungan dari berbagai kuman, seperti saluran pencernaan, pernapasan, pencernaan, kulit dan lain-lain.
3.      Inang (host)
Merupakan tempat berkembangnya suatu mikroorganisme yang dapat didukung oleh ketahanan kuman.
4.      Jalan Keluar
Merupakan tempat keluarnya mikroorganisme dari reservoir, seperti sistem pernapasan, sistem pencernaan, alat kelamin dan lain-lain.
5.      Jalur Penyebaran
Merupakan jalur yang dapat menyebarkan berbagai kuman mikroorganisme ke berbagai tempat, seperti air, makanan, udara dan lain-lain.

2.3      Cara Penularan Mikroorganisme
Proses penyebaran mikroorganisme kedalam tubuh, baik pada manusia maupun hewan dapat melalui berbagai cara di antaranya :
1.      Kontak Tubuh
Kuman masuk ke dalam tubuh melalui proses penyebaran secara langsung maupun tidak langsung. Penyebaran secara langsung melalui sentuhan dengan kulit, sedangkan secara tidak langsung dapat melalui benda yang terkontaminasi kuman.
2.      Makanan dan Minuman
Terjadinya penyebaran dapat melalui makanan dan minuman yang telah terkontaminasi, seperti pada penyakit tifus abdominalis penyakit infeksi cacing, dan lain-lain.
3.      Serangga
Contoh proses penyebaran kuman melalui serangga adalah penyebaran penyakit malaria oleh plasmodium pada nyamuk aedes dan beberapa penyakit saluran pencernaan yang dapat ditularkan  melalui lalat.

4.      Udara
Proses penyebaran kuman melalui udara dapat dijumpai pada penyebaran penyakit sistem pernapasan (penyebaran kuman tuberkolosis) atau sejenisnya.

2.4      Faktor Yang Mempengaruhi  Proses Infeksi
Faktor-faktor yang mempengaruhi proses infeksi adalah:
1.      Sumber Penyakit
      Sumber penyakit dapat mempengaruhi apakah infeksi berjalan dengan cepat atau lambat.
2.      Kuman Penyebab
      Kuman penyebab dapat menentukan jumah mikroorganisme, kemampuan mikroorganisme masuk kedalam tubuh dan virulensinya.
3.      Cara Membebaskan Sumber Dari Kuman      
      Cara membebaskan kuman dapat menentukan apakah proses infeksi cepat teratasi atau diperlambat, seperti tingkat keasaman (pH), suhu, penyinaran (cahaya) dan lain-lain.
4.      Cara Penularan
      Cara penularan seperti kontak langsung melalui makanan atau udara dapat menyebabkan penyebaran kuman kedalam tubuh.
5.      Cara Masuknya Kuman
      Proses penyebaran kuman berbeda tergantung dari sifatnya. Kuman dapat masuk melalui saluran pernapasan, saluran pencernaan, kulit dan lain-lain.
6.      Daya Tahan Tubuh
Daya tahan tubh yang baik dapat memperlambat proses infeksi atau mempercepat proses penyembuhan. Demikian pula sebaliknya, daya tahan tubuh yang buruk dapat memperburuk proses infeksi.
Selain faktor- faktor diatas, terdapat faktor lain seperti status gizi atau nutrisi, tingkat stress pada tubuh, faktor usia, dan kebiasaan yang tidak sehat.
2.5 Infeksi Nosokomial
      Kata nosokomial berasal dari kata dalam bahasa yunani Nosokomien yang artinya rumah sakit atau tempat perawatan. Kata itu sendiri berasal dari Norus artinya penyakit, komeion berarti merawat. Nosokomial diartikan segala sesuatu yang berasal atau berhubungan dengan rumah sakit atau tempat perawatan.
      Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi dirumah sakit atau dalam sistem pelayanan kesehatan yang berasal dari proses penyebaran di sumber pelayanan kesehatan, baik melalui pasien, petugas kesehatan, pengunjung, maupun sumber lainnya.
      Penyebab Infeksi Nosokomial akan menjadi kuman yang berada di lingkungan Rumah Sakit atau oleh kuman yang sudah dibawa oleh pasien sendiri, yaitu kuman Endogen. Dari batasan ini dapat disimpulkaan bahwa kejadian Infeksi Nosokomial adalah Infeksi yang secara potensial dapat dicegah atau sebaliknya dapat juga merupakan infeksi yang tidak dapat dicegah.
      Infeksi yang terjadi dirumah sakit atau dalam sistem pelayanan kesehatan yang berasal dari proses penyebaran disumber pelayanan kesehatan, baik melalui :
1.      Pasien
        Pasien merupakan unsur pertama yang dapat menyebarkan infeksi kepada pasien lainnya, petugas kesehatan, pengunjung, atau benda dan alat kesehatan yang lainnya.
2.      Petugas kesehatan
Petugas kesehatan dapat menyebarkan infeksi melalui kontak langsung yang dapat menularkan berbagai kuman ke tempat lain.
3.      Pengunjung
Pengunjung dapat menyebarkan infeksi yang didapat dari luar ke dalam lingkungan rumah sakit, atau sebaliknya yang dapat dari dalam rumah sakit keluar rumah sakit.
4.      Sumber Lainnya
      Yang dimaksud disini adalah lingkungan rumah sakit yang meliputi lingkungan umum atau kondisi kebersihan rumah sakit atau alat yang ada dirumah sakit yang dibawa oleh pengunjung atau petugas kesehatan kepada pasien dan sebaliknya.
      Dan pada umumnya infeksi Nosokomial yang mendapat perhatian hanyalah infeksi yang terjadi pada penderita yang sedang dirawat dirumah sakit. Infeksi yang tidak diketahui masa inkubasinya yang timbul pada penderita yang dirawat inap, harus dianggap sebagai infeksi nosokomial sampai dapat dibuktikan secara klinis ataupun epidemiologis bahwa infeksi dapat dibuktikan secara klinis ataupun epidiomiologis bahwa infeksi tersebut berasal dari masyarakat.
                  Infeksi nosokomial dapat secara eksogen atau endogen. Infeksi eksogen didapat dari mikroorganisme eksternal terhadap individu, yang bukan merupakan flora normal, contohnya adalah organisme salmonella dan clostridium tetani. Infeksi endogen dapat terjadi bila sebagian flora normal klien berubah dan terjadi pertumbuhan yang berlebihan. Contohnya adalah infeksi yang disebabkan enterokokus, ragi, dan steptokokus. Bila organisme dalam jumlah cukup yang normalnya ditemukan dalam salah satu rongga atau lapisan tubuh dipindahkan kebagian tubuh lain, terjadi infeksi endogen. Misalnya penularan dari enterokokus, normalnya ditemukan dalam feses, dari tangan kekulit sering mengakibatkan infeksi luka. Jumlah mikroorganisme yang diperlukan untuk menyebabkan infeksi nosokomial bergantung pada virulensi organisme, kerentanan hospes dan daerah yang diinfeksi.
      Jumlah tenaga pelayanan kesehatan yang kontak langsung dengan pasien, jenis dan jumlah prosedur invasif terapi resiko yang diterima dan lama perawatan mempengaruhi resiko terinfeksi. Tempat utama untuk infeksi nosokomial piratorius, dan pembuluh darah.
      Infeksi nosokomial meningkatkan biaya perawatan kesehatan secara signifikan, lamanya masa rawat diinstitusi layanan kesehatan, meningkatnya ketidakmampuan, peningkatan biaya antibodi dan masa penyembuhan yang memanjang yang menambah pengeluaran klien, juga institusi layanan kesehatan dan badan pemberian dana (misalnya medicare). Seringkali biaya untuk infeksi nosokomial tidak diganti, oleh sebab itu pencegahan memiliki pengaruh finansial yang menguntungkan dan merupakan bagian penting dalam penatalaksanaan perawatan.
Terjadinya infeksi nosokomial adalah karena beberapa factor-faktor :
1.      Agen penyakit
      Macam-macam agen penyakit dapat berupa kuman, virus, jamur, parasit atau rickettsia. Dan macam-macam agen penyakit ini ditentukan pula oleh patogenitasnya, virulensinya, daya invasifnya dan dosis infeksinya.
2.      Reservoir/sumber
      Semua kuman ada reseviornya/sumbernya seperti virus, reseviornya adalah manusia, kuman positif gram manusia, tetapi kuman negatif dapat manusia dapat juga alam seperti Pseudomonas. Apabila reseviornya manusia, maka dapat berasal dari traktus respiratorius, traktus digestivus, traktus urogenitalis, kulit (variola) atau darah (hepatitis B).Kuman itu akan ada diudara pada debu seperti Salmonella, pada droplet seperti Mycrobacterium atau pada kulit yang lepas.
3.      Lingkungan
      Keadaan udara sangat mempengaruhi seperti kelembapan udara, suhu dan pergerakan udara atau tekanan udara.
4.      Penularan
      Penularan adalah perjalanan kuman patogen dari sumber ke hospes. Ada 4 jalan yang dapat ditempuh:
a.       Kontak langsung (perawat)
b.      Alat (endoskop)
c.       Udara
      d.      Vektor (lalat)
5.      Hospes 
Tergantung port d'entree (tempat masuknya penyakit)
a.       Melalui kulit seperti Leptospira atau Staphylococcus.
b.      Melalui traktus digestivus seperti Eschericha coli, Shigella, Salmonela.
c.     Melalui traktus respiratoris bagian atas partikel =5µ. Apakah melalui traktus respiratorius bagian bawah partikel =5µ.
d.      Melalui traktus urinarius seperti Klebsiel la pneumoniae.

2.6  Sterilisasi Dan Desinfeksi
Sterilisasi       
Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau pengahncuran semua bentuk kehidupan mikroba yang dilakukan dirumah sakit melalui proses fisik maupun kimiawi. Strelisisasi juga dapat dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman pathogen atau apatogen beserta spora yang terdapat pada alat perawatan atau kedokteran dengan cara merembus, menggunakan panas tinggi, atau bahan kimia. Sterilisasai adalah tahap awal yang penting dari proses pengujian mikrobiologi. Ada 5 metode umum sterilisasi yaitu :
a.       Sterilisasi uap (panas lembap)
b.      Sterilisasi panas kering
c.       Sterilisasi dengan penyaringan
d.      Sterilisasi gas
e.       Sterilisasi dengan radiasi
A.    Sterilisasi Uap
Sterilisasi uap dilakukan dengan autoklaf menggunakan uap air dalam tekanan sebagai pensterilnya. Bila ada kelembapan (uap air) bakteri akan terkoagulasi dan dirusak pada temperature yang lebih rendah dibandingkan bila tidak ada kelembapan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial dari organism tersebut :
Prinsip cara kerja autoklaf
Seperti yang telah dijelaskan sebagian pada bab pengenalan alat, autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat & bahan yang menggunakan tekanan 15 psi (2 atm) dan suhu 1210 C. Untuk cara kerja penggunaan autoklaf telah disampaikan di depan. Suhu dan tekanan tinggi yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya untuk mesterilkan media digunakan suhu 121o C dan tekanan 15 lb/in2 (SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan digunakan suhu 121o C atau 249,8o F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut (sea level) air mendidih pada suhu 100o C, sedangkan untuk autoklaf yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan memdididh pada suhu 121o C. Ingat kejadian ini hanya berlaku untuk sea level, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoklaf diletakkan pada ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai suhu 121o C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati jika dididihkan pada suhu 121o C dan tekanan 15 psi selama 15 menit.
Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai dantimer mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi.
Untuk mendeteksi bahwa autoklaf bekerja dengan sempurna dapat digunakan mikroba
pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus,
lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan disterilkan. Setelah proses sterilisai lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja dengan baik.
B.     Sterilisasi Panas Kering
Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan menggunakan oven pensteril karena panas kering kurang efektif untuk membunuh mikroba dibandingkan dengan uap air panas maka metode ini memerlukan temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang. Sterilisasi panas kering biasanya ditetapkan pada temperature 160-1700C dengan waktu 1-2 jam.
Sterilisasi panas kering umumnya digunakan untuk senyawa-senyawa yang tidak efektif untuk disterilkan dengan uap air panas, karena sifatnya yang tidak dapat ditembus atau tidak tahan dengan uap air.Senyawa-senyawa tersebut meliputi minyak lemak, gliserin (berbagai jenis minyak), dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air.Metode ini juga efektif untuk mensterilkan alat-alat gelas dan bedah.
Karena suhunya sterilisasi yang tinggi sterilisasi panas kering tidak dapat digunakan untuk alat-alat gelas yang membutuhkan keakuratan (contoh:alat ukur) dan penutup karet atau plastik.
C.    Sterilisasi dengan penyaringan
Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan untuk mensterilisasi cairan yang mudah rusak jika terkena panas atu mudah menguap (volatile). Cairan yang disterilisasi dilewatkan ke suatu saringan (ditekan dengan gaya sentrifugasi atau pompa vakum) yang berpori dengan diameter yang cukup kecil untuk menyaring bakteri. Virus tidak akan tersaring dengan metode ini.

D.    Sterilisasi gas
Sterilisasi gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk membunuh mikroorganisme dan sporanya. Meskipun gas dengan cepat berpenetrasi ke dalam pori dan serbuk padat. Sterilisasi adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme yang terkristal akan dibunuh. Sterilisasi gas biasanya digunakan untuk bahan yang tidak bisa difiltrasi, tidak tahan panas dan tidak tahan radiasi atau cahaya.
E.     Sterilisasi dengan radiasi
Radiasi sinar gama atau partikel elektron dapat digunakan untuk mensterilkan jaringan yang telah diawetkan maupun jaringan segar. Untuk jaringan yang dikeringkan secara liofilisasi, sterilisasi radiasi dilakukan pada temperatur kamar (proses dingin) dan tidak mengubah struktur jaringan, tidak meninggalkan residu dan sangat efektif untuk membunuh mikroba dan virus sampai batas tertentu. Sterilisasi jaringan beku dilakukan pada suhu -40o Celsius. Teknologi ini sangat aman untuk diaplikasikan pada jaringan biologi.
Hal-hal yang perlu diperhatikan pada sterilisasi, di antaranya:
1.      Sterilisator (alat untuk mensteril) harus siap pakai, bersih dan masih berfungsi.
2.      Peralatan yang akan disterilisasi harus dibungkus dan diberi label yang jelas dengan menyebutkan jenis peralatan, jumlah, tanggal pelaksanaan steril.
3.      Penataan alat harus berprinsip semua bagian dapat steril.
4.      Tidak boleh menambah peralatan dalam sterilisator sebelum waktu mensteril selesai.
5.      Memindahkan alat steril ke dalam tempatnya dengan korentang steril.
6.      Saat mendinginkan alat steril tidak boleh membuka pembungkusnya, bila terbuka harus dilakukan sterilisasi ulang.
F. Desinfeksi
Desinfeksi adalah proses pembuangan semua mikroorganisme patogen pada objek yang tidak hidup dengan pengecualian pada endospora bakteri. Desinfeksi juga dikatakan suatu tindakan yang dilakukan untuk membunuh kuman patogen dan apatogen tetapi tidak dengan membunuh spora yang terdapat pada alat perawatan ataupun kedokteran. Desinfeksi dilakukan dengan menggunakan bahan desinfektan melalui cara mencuci, mengoles, merendam dan menjcmur dengan tujuan mencegah terjadinya infeksi, dan mengondisikan alat dalam keadaan siap pakai.
Kemampuan desinfeksi ditentukan oleh waktu sebelum pembersihan objek, kandungan rat organik, tipe dan tingkat kontaminasi mikroba, konsentrasi dan waktu pemaparan, kealamian objek, suhu, dan derajat keasaman (pH).
Disinfektan yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan ini dinamakan antiseptik. Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan pada benda mati. Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau sebaliknya tergantung dari toksisitasnya.
Desinfektan akan membantu mencegah infeksi terhadap pasien yang berasal dari peralatan maupun dari staf medis yang ada di RS dan juga membantu mencegah tertularnya tenaga medis oleh penyakit pasien. Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme patogen pada benda mati.
Kriteria desinfeksi yang ideal:
1.      Bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar
2.      Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan kelembaban
3.      Tidak toksik pada hewan dan manusia
4.      Tidak bersifat korosif
5.      Tidak berwarna dan meninggalkan noda
6.      Tidak berbau/ baunya disenangi
7.      Bersifat biodegradable/ mudah diurai
8.      Larutan stabil
 9.    Mudah digunakan dan ekonomis
10.  Aktivitas berspektrum luas

Tujuan dari sterilisasi dan desinfeksi adalah:
  • Mencegah terjadinya infeksi
  • Mencegah makanan menjadi rusak
  • Mencegah kontaminasi mikroorganisme dalam industry
  • Mencegah kontaminasi terhadap bahan- bahan yg dipakai dalam melakukan biakan murni.
Hasil proses desinfeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor:
·         Beban organik (beban biologis) yang dijumpai pada benda.
·         Tipe dan tingkat kontaminasi mikroba.
·         Pembersihan/dekontaminasi benda sbelumnya.
·         Konsentrasi desinfektan dan waktu pajanan.
·         Struktur fisik benda.
·         Suhu dan PH dari proses desinfeksi
Terdapat 3 tingkat desinfeksi:
·          Desinfeksi tingkat tinggi
·         Membunuh semua organisme dengan perkecualian spora bakteri.
·          Desinfeksi tingkat sedang
·         Membunuh bakteri kebanyakan jamur kecuali spora bakteri.
·         Desinfeksi tingkat rendah
Membunuh kebanyakan bakteri beberapa virus dan beberapa jamur tetapi tidak dapat      membunuh mikroorganisme yang resisten seperti basil tuberkel dan spora bakteri.

2.7 Pencegahan Infeksi
Prinsip Pencegahan infeksi
1.      Beberapa definisi dalam pencegahan infeksi, antara lain adalah:
a)      Antiseptik
Antiseptik adalah usaha mencegah infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada kulit atau jaringan tubuh lainnya.
b)      Aseptik
Aseptik adalah semua usaha yang dilakukan dalam mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang mungkin akan menyebabkan infeksi. Tujuannya adalah mengurangi atau menghilangkan jumlah mikroorganisme, baik pada permukaan benda hidup maupun benda mati agar alat-alat kesehatan dapat digunakan dengan aman.
c)      Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah tindakan yang dilakukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman benda-benda (peralatan medis, sarung tangan, meja pemeriksaan) yang terkontaminasi darah dan cairan tubuh. Cara memastikannya adalah segera melakukan dekontaminasi terhadap benda - benda tersebut setelah terpapar/terkontaminasi darah atau cairan tubuh


d)     Desinfeksi
Tindakan yang tindakan menghilangkan sebagian besar mikroorganisme penyebab penyakit dari benda mati.
e)      Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT)
Suatu proses yang menghilangkan mikroorganisme kecuali beberapa endospora bakteri pada benda mati dengan merebus, mengukus, atau penggunaan desinfektan kimia.
f)       Mencuci dan membilas
Suatu proses yang secara fisik menghilangkan semua debu, kotoran, darah, dan bagian tubuh lain yang tampak pada objek mati dan membuang sejumlah besar mikro organisme untuk mengurangi resiko bagi mereka yang menyentuh kulit atau menangani benda tersebut (proses ini terdiri dari pencucian dengan sabun atau deterjen dan air, pembilasan dengan air bersih dan pengeringan secara seksama).
g)      Sterilisasi
Sterilisasi adalah tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, virus, jamur, parasit), termasuk endospora bakteri pada benda-benda mati atau instrument.
2.      Prinsip-prinsip pencegahan infeksi yang efektif berdasarkan:
o   Setiap orang (ibu, bayi baru lahir, penolong persalinan) harus dianggap dapat menularkan penyakit karena infeksi yang terjadi bersifat asimptomatik (tanpa gejala).
o   Setiap orang harus dianggap beresiko terkena infeksi.
o   Permukaan tempat pemeriksaan, peralatan dan benda-benda lain yang akan dan telah bersentuhan dengan kulit tak utuh, selaput mukosa, atau darah harus dianggap terkontaminasi sehingga setelah selesai digunakan harus dilakukan proses pencegahan infeksi secara benar.
o   Jika tidak diketahui apakah permukaan, peralatan atau benda lainnya telah diproses dengan benar, harus dianggap telah terkontaminasi.
o   Resiko infeksi tidak bisa dihilangkan secara total tetapi dapat dikurangi hingga sekecil mungkin dengan menerapkan tindakan-tindakan pencegahan infeksi yang benar dan konsisten.


3.      Tindakan-tindakan pencegahan infeksi meliputi :
o   Pencucian tangan.
o   Penggunaan sarung tangan.
o   Penggunaan cairan antiseptic untuk membersihkan luka pada kulit.
o   Pemrosesan alat bekas pakai (dekontaminasi, cuci dan bilas, desinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi).
o   Pembuangan sampah.
BAB III
PENUTUP

1.1  Kesimpulan
     
      Infeksi yang muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial. Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama.
      Faktor Penyebab perkembangan infeksi nosokomial yaitu Agen infeksi, Respon dan toleransi tubuh pasien, Infeksi melalui kontak langsung dan tidak langsung, Resistensi antibiotika dan Faktor alat. Sterilisasi merupakan upaya pembunuhan atau pengahancuran semua bentuk kehidupan mikroba yang dilakukan dirumah sakit melalui proses fisik maupun kimiawi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar