KATA
PENGANTAR
Syukur
Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. yang telah melimpahkan
Rahmat dan Hidayah-Nya kepada kita semua. Shalawat dan salam senantiasa kita
panjatkan kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW. Khususnya kepada penulis sehingga dapat
menyelesaikan makalah ini. Dalam makalah ini kami membahas mengenai Standar
Pengendalian Infeksi dan Pelayanan Sterilisasi
Adapun
penyusunan Makalah ini yaitu berdasarkan pada bahan-bahan yang penulis cari
dari berbagai sumber. Penulis mencatat hal-hal yang berhubungan dengan pokok
permasalahan yang dibahas. Dalam menyusun Makalah ini, penulis banyak menerima
bimbingan dan petunjuk dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Dalam menyusun Makalah
ini, penulis telah berusaha semaksimal mungkin, namun karena keterbatasan
kemampuan penulis, penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan, untuk itu penulis dengan hati yang lapang menerima saran dan
kritik dari semua pihak.
Semoga Makalah
ini dapat menjadi amal baik bagi penulis dan bermanfaat bagi pembaca serta
mendapat ridho Allah SWT.
Penyusun
Bandung, juni 2014
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Dalam Kamus
Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan multiplikasi
mikroorganisme dalam jaringan tubuh, khususnya yang menimbulkan cedera seluler
setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin, replikasi intraseluler atau
reaksi antigen-antibodi. Munculnya infeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor
yang saling berkaitan dalam rantai infeksi. Adanya patogen tidak berarti bahwa
infeksi akan terjadi.
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang didapat pasien dari rumah
sakit pada saat pasien menjalani proses asuhan keperawatan. Infeksi nosokomial
pada umumnya terjadi pada pasien yang dirawat di ruang seperti ruang perawatan
anak, perawatan penyakit dalam, perawatan intensif, dan perawatan isolasi
(Darmadi, 2008). Infeksi nosokomial menurut Brooker (2008) adalah infeksi yang
didapat dari rumah sakit yang terjadi pada pasien yang dirawat selama 72 jam
dan pasien tersebut tidak menunjukkan tanda dan gejala infeksi pada saat masuk
rumah sakit.
1.2 Rumusan
Masalah
Adapun rumusan
masalah dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut:
1. Definisi Pengendalian Infeksi
2. Rantai Infeksi
3. Cara penularan mikroorganisme
4. Faktor yang mempengaruhi proses
infeksi
5. Infeksi nosokomial
6. Sterilisasi dan desinfeksi
7. Pencegahan infeksi
8. Masalah- masalah pada pengendalian
infeksi
1.3 Tujuan Penulisan
Adapun yang menjadi tujuan penulisan
makalah ini adalah:
1. Mengetahui deinisi infeksi
2. Mengetahuai Rantai Infeksi
3. Mengetahui cara penularan
mikroorganisme
4. Mengetahui faktor yang mempengaruhi proses infeksi
5. Mengetahui Infeksi nosokomial
6. Mengetahui Sterilisasi dan desinfeksi
7. Mengetahui Pencegahan infeksi
8. Mengetahui masalah- masalah pada
pengendalian infeksi
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Definisi Pengendalian
Infeksi
Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen atau
mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit (Potter & Perry, 2005).
Dalam Kamus
Keperawatan disebutkan bahwa infeksi adalah invasi dan multiplikasi
mikroorganisme dalam jaringan tubuh, khususnya yang menimbulkan cedera seluler
setempat akibat metabolisme kompetitif, toksin, replikasi intraseluler atau
reaksi antigen-antibodi. Munculnya infeksi dipengaruhi oleh beberapa faktor
yang saling berkaitan dalam rantai infeksi. Adanya patogen tidak berarti bahwa
infeksi akan terjadi.
Menurut Utama
2006, Infeksi adalah adanya suatu organisme pada jaringan atau cairan tubuh
yang disertai suatu gejala klinis baik lokal maupun sistemik. Infeksi yang
muncul selama seseorang tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan
suatu gejala selama seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut
infeksi nosokomial. Secara umum, pasien yang masuk rumah sakit dan menunjukkan
tanda infeksi yang kurang dari 72 jam menunjukkan bahwa masa inkubasi penyakit
telah terjadi sebelum pasien masuk rumah sakit, dan infeksi yang baru
menunjukkan gejala setelah 72 jam pasien berada dirumah sakit baru disebut
infeksi nosokomial.
Infeksi
nosokomial ini dapat berasal dari dalam tubuh penderita maupun luar tubuh.
Infeksi endogen disebabkan oleh mikroorganisme yang semula memang sudah ada
didalam tubuh dan berpindah ke tempat baru yang kita sebut dengan self
infection atau auto infection, sementara infeksi eksogen (cross
infection) disebabkan oleh mikroorganisme yang berasal dari rumah sakit dan
dari satu pasien ke pasien lainnya.
2.2
Rantai Infeksi
Menurut Perry
Potter, 2005 proses terjadinya infeksi seperti rantai yang saling terkait antar
berbagai faktor yang mempengaruhi, Proses tersebut melibatkan beberapa unsur diantaranya:
1. Reservoir
Merupakan habitat pertumbuhan dan
perkembangan mikroorganisme dapat berupa manusia, binatang, tumbuhan, maupun
tanah.
2. Jalan
Masuk
Merupakan jalan masuknya
mikroorganisme ketempat penampungan dari berbagai kuman, seperti saluran
pencernaan, pernapasan, pencernaan, kulit dan lain-lain.
3. Inang
(host)
Merupakan tempat berkembangnya suatu mikroorganisme yang
dapat didukung oleh ketahanan kuman.
4. Jalan
Keluar
Merupakan tempat keluarnya
mikroorganisme dari reservoir, seperti sistem pernapasan, sistem pencernaan,
alat kelamin dan lain-lain.
5. Jalur
Penyebaran
Merupakan jalur yang dapat
menyebarkan berbagai kuman mikroorganisme ke berbagai tempat, seperti air,
makanan, udara dan lain-lain.
2.3 Cara Penularan
Mikroorganisme
Proses penyebaran mikroorganisme kedalam tubuh, baik pada
manusia maupun hewan dapat melalui berbagai cara di antaranya :
1. Kontak
Tubuh
Kuman masuk ke dalam tubuh melalui proses penyebaran secara
langsung maupun tidak langsung. Penyebaran secara langsung melalui sentuhan
dengan kulit, sedangkan secara tidak langsung dapat melalui benda yang
terkontaminasi kuman.
2. Makanan
dan Minuman
Terjadinya penyebaran dapat melalui
makanan dan minuman yang telah terkontaminasi, seperti pada penyakit tifus abdominalis
penyakit infeksi cacing, dan lain-lain.
3. Serangga
Contoh proses penyebaran kuman melalui serangga adalah
penyebaran penyakit malaria oleh plasmodium pada nyamuk aedes dan beberapa
penyakit saluran pencernaan yang dapat ditularkan melalui lalat.
4. Udara
Proses penyebaran kuman melalui
udara dapat dijumpai pada penyebaran penyakit sistem pernapasan (penyebaran
kuman tuberkolosis) atau sejenisnya.
2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Proses Infeksi
Faktor-faktor
yang mempengaruhi proses infeksi adalah:
1. Sumber
Penyakit
Sumber penyakit dapat
mempengaruhi apakah infeksi berjalan dengan cepat atau lambat.
2. Kuman
Penyebab
Kuman penyebab dapat
menentukan jumah mikroorganisme, kemampuan mikroorganisme masuk kedalam tubuh
dan virulensinya.
3. Cara
Membebaskan Sumber Dari Kuman
Cara membebaskan kuman dapat
menentukan apakah proses infeksi cepat teratasi atau diperlambat, seperti
tingkat keasaman (pH), suhu, penyinaran (cahaya) dan lain-lain.
4. Cara
Penularan
Cara penularan seperti kontak
langsung melalui makanan atau udara dapat menyebabkan penyebaran kuman kedalam
tubuh.
5. Cara
Masuknya Kuman
Proses penyebaran kuman
berbeda tergantung dari sifatnya. Kuman dapat masuk melalui saluran pernapasan,
saluran pencernaan, kulit dan lain-lain.
6. Daya
Tahan Tubuh
Daya tahan tubh yang baik dapat
memperlambat proses infeksi atau mempercepat proses penyembuhan. Demikian pula
sebaliknya, daya tahan tubuh yang buruk dapat memperburuk proses infeksi.
Selain faktor- faktor diatas,
terdapat faktor lain seperti status gizi atau nutrisi, tingkat stress pada
tubuh, faktor usia, dan kebiasaan yang tidak sehat.
2.5
Infeksi Nosokomial
Kata nosokomial berasal dari kata
dalam bahasa yunani Nosokomien yang artinya rumah sakit atau tempat perawatan.
Kata itu sendiri berasal dari Norus artinya penyakit, komeion berarti merawat.
Nosokomial diartikan segala sesuatu yang berasal atau berhubungan dengan rumah
sakit atau tempat perawatan.
Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi dirumah sakit atau dalam sistem
pelayanan kesehatan yang berasal dari proses penyebaran di sumber pelayanan
kesehatan, baik melalui pasien, petugas kesehatan, pengunjung, maupun sumber
lainnya.
Penyebab
Infeksi Nosokomial akan menjadi kuman yang berada di lingkungan Rumah Sakit
atau oleh kuman yang sudah dibawa oleh pasien sendiri, yaitu kuman Endogen.
Dari batasan ini dapat disimpulkaan bahwa kejadian Infeksi Nosokomial adalah
Infeksi yang secara potensial dapat dicegah atau sebaliknya dapat juga
merupakan infeksi yang tidak dapat dicegah.
Infeksi yang terjadi dirumah sakit atau dalam sistem pelayanan kesehatan yang
berasal dari proses penyebaran disumber pelayanan kesehatan, baik melalui :
1. Pasien
Pasien merupakan unsur pertama yang dapat menyebarkan infeksi kepada pasien
lainnya, petugas kesehatan, pengunjung, atau benda dan alat kesehatan yang
lainnya.
2. Petugas
kesehatan
Petugas kesehatan dapat menyebarkan
infeksi melalui kontak langsung yang dapat menularkan berbagai kuman ke tempat
lain.
3. Pengunjung
Pengunjung dapat menyebarkan infeksi
yang didapat dari luar ke dalam lingkungan rumah sakit, atau sebaliknya yang
dapat dari dalam rumah sakit keluar rumah sakit.
4.
Sumber Lainnya
Yang
dimaksud disini adalah lingkungan rumah sakit yang meliputi lingkungan umum
atau kondisi kebersihan rumah sakit atau alat yang ada dirumah sakit yang
dibawa oleh pengunjung atau petugas kesehatan kepada pasien dan sebaliknya.
Dan
pada umumnya infeksi Nosokomial yang mendapat perhatian hanyalah infeksi yang
terjadi pada penderita yang sedang dirawat dirumah sakit. Infeksi yang tidak
diketahui masa inkubasinya yang timbul pada penderita yang dirawat inap, harus
dianggap sebagai infeksi nosokomial sampai dapat dibuktikan secara klinis
ataupun epidemiologis bahwa infeksi dapat dibuktikan secara klinis ataupun
epidiomiologis bahwa infeksi tersebut berasal dari masyarakat.
Infeksi nosokomial dapat secara eksogen atau endogen. Infeksi eksogen
didapat dari mikroorganisme eksternal terhadap individu, yang bukan merupakan
flora normal, contohnya adalah organisme salmonella dan clostridium tetani. Infeksi
endogen dapat terjadi bila sebagian flora normal klien berubah dan terjadi
pertumbuhan yang berlebihan. Contohnya adalah infeksi yang disebabkan
enterokokus, ragi, dan steptokokus. Bila organisme dalam jumlah cukup yang
normalnya ditemukan dalam salah satu rongga atau lapisan tubuh dipindahkan
kebagian tubuh lain, terjadi infeksi endogen. Misalnya penularan dari
enterokokus, normalnya ditemukan dalam feses, dari tangan kekulit sering
mengakibatkan infeksi luka. Jumlah mikroorganisme yang diperlukan untuk
menyebabkan infeksi nosokomial bergantung pada virulensi organisme, kerentanan
hospes dan daerah yang diinfeksi.
Jumlah tenaga pelayanan
kesehatan yang kontak langsung dengan pasien, jenis dan jumlah prosedur invasif
terapi resiko yang diterima dan lama perawatan mempengaruhi resiko terinfeksi.
Tempat utama untuk infeksi nosokomial piratorius, dan pembuluh darah.
Infeksi nosokomial
meningkatkan biaya perawatan kesehatan secara signifikan, lamanya masa rawat
diinstitusi layanan kesehatan, meningkatnya ketidakmampuan, peningkatan biaya
antibodi dan masa penyembuhan yang memanjang yang menambah pengeluaran klien,
juga institusi layanan kesehatan dan badan pemberian dana (misalnya medicare).
Seringkali biaya untuk infeksi nosokomial tidak diganti, oleh sebab itu
pencegahan memiliki pengaruh finansial yang menguntungkan dan merupakan bagian
penting dalam penatalaksanaan perawatan.
Terjadinya infeksi nosokomial adalah
karena beberapa factor-faktor :
1. Agen
penyakit
Macam-macam agen penyakit dapat berupa kuman, virus, jamur, parasit atau
rickettsia. Dan macam-macam agen penyakit ini ditentukan pula oleh
patogenitasnya, virulensinya, daya invasifnya dan dosis infeksinya.
2. Reservoir/sumber
Semua
kuman ada reseviornya/sumbernya seperti virus, reseviornya adalah manusia,
kuman positif gram manusia, tetapi kuman negatif dapat manusia dapat juga alam
seperti Pseudomonas. Apabila reseviornya manusia, maka dapat berasal dari
traktus respiratorius, traktus digestivus, traktus urogenitalis, kulit
(variola) atau darah (hepatitis B).Kuman itu akan ada diudara pada debu seperti
Salmonella, pada droplet seperti Mycrobacterium atau pada kulit yang lepas.
3. Lingkungan
Keadaan udara sangat mempengaruhi seperti kelembapan udara, suhu dan pergerakan
udara atau tekanan udara.
4. Penularan
Penularan
adalah perjalanan kuman patogen dari sumber ke hospes. Ada 4 jalan yang dapat
ditempuh:
a.
Kontak langsung (perawat)
b.
Alat (endoskop)
c.
Udara
d.
Vektor (lalat)
5. Hospes
Tergantung port d'entree (tempat masuknya penyakit)
a.
Melalui kulit seperti Leptospira atau Staphylococcus.
b.
Melalui traktus digestivus seperti Eschericha coli, Shigella, Salmonela.
c. Melalui
traktus respiratoris bagian atas partikel =5µ. Apakah melalui traktus
respiratorius bagian bawah partikel =5µ.
d.
Melalui traktus urinarius seperti Klebsiel la pneumoniae.
2.6 Sterilisasi Dan Desinfeksi
Sterilisasi
Sterilisasi
merupakan upaya pembunuhan atau pengahncuran semua bentuk kehidupan mikroba
yang dilakukan dirumah sakit melalui proses fisik maupun kimiawi. Strelisisasi
juga dapat dikatakan sebagai tindakan untuk membunuh kuman pathogen atau
apatogen beserta spora yang terdapat pada alat perawatan atau kedokteran dengan
cara merembus, menggunakan panas tinggi, atau bahan kimia. Sterilisasai adalah
tahap awal yang penting dari proses pengujian mikrobiologi. Ada 5 metode umum
sterilisasi yaitu :
a. Sterilisasi uap (panas lembap)
b. Sterilisasi panas kering
c. Sterilisasi dengan penyaringan
d. Sterilisasi gas
e. Sterilisasi dengan radiasi
A. Sterilisasi
Uap
Sterilisasi uap dilakukan dengan autoklaf menggunakan uap
air dalam tekanan sebagai pensterilnya. Bila ada kelembapan (uap air) bakteri
akan terkoagulasi dan dirusak pada temperature yang lebih rendah dibandingkan
bila tidak ada kelembapan. Mekanisme penghancuran bakteri oleh uap air panas
adalah karena terjadinya denaturasi dan koagulasi beberapa protein esensial dari
organism tersebut :
Prinsip cara kerja autoklaf
Seperti yang telah dijelaskan sebagian pada bab pengenalan
alat, autoklaf adalah alat untuk mensterilkan berbagai macam alat & bahan
yang menggunakan tekanan 15 psi (2 atm) dan suhu 1210 C. Untuk cara
kerja penggunaan autoklaf telah disampaikan di depan. Suhu dan tekanan tinggi
yang diberikan kepada alat dan media yang disterilisasi memberikan kekuatan
yang lebih besar untuk membunuh sel dibanding dengan udara panas. Biasanya
untuk mesterilkan media digunakan suhu 121o C dan tekanan 15 lb/in2
(SI = 103,4 Kpa) selama 15 menit. Alasan digunakan suhu 121o C atau
249,8o F adalah karena air mendidih pada suhu tersebut jika
digunakan tekanan 15 psi. Untuk tekanan 0 psi pada ketinggian di permukaan laut
(sea level) air mendidih pada suhu 100o C, sedangkan untuk autoklaf
yang diletakkan di ketinggian sama, menggunakan tekanan 15 psi maka air akan
memdididh pada suhu 121o C. Ingat kejadian ini hanya berlaku untuk
sea level, jika dilaboratorium terletak pada ketinggian tertentu, maka
pengaturan tekanan perlu disetting ulang. Misalnya autoklaf diletakkan pada
ketinggian 2700 kaki dpl, maka tekanan dinaikkan menjadi 20 psi supaya tercapai
suhu 121o C untuk mendidihkan air. Semua bentuk kehidupan akan mati
jika dididihkan pada suhu 121o C dan tekanan 15 psi selama 15 menit.
Pada saat sumber panas dinyalakan, air dalam autoklaf lama
kelamaan akan mendidih dan uap air yang terbentuk mendesak udara yang mengisi
autoklaf. Setelah semua udara dalam autoklaf diganti dengan uap air, katup
uap/udara ditutup sehingga tekanan udara dalam autoklaf naik. Pada saat
tercapai tekanan dan suhu yang sesuai, maka proses sterilisasi dimulai dantimer
mulai menghitung waktu mundur. Setelah proses sterilisasi selesai, sumber panas
dimatikan dan tekanan dibiarkan turun perlahan hingga mencapai 0 psi. Autoklaf
tidak boleh dibuka sebelum tekanan mencapai 0 psi.
Untuk mendeteksi bahwa autoklaf bekerja dengan sempurna
dapat digunakan mikroba
pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus,
lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan disterilkan. Setelah proses sterilisai lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja dengan baik.
pengguji yang bersifat termofilik dan memiliki endospora yaitu Bacillus stearothermophillus,
lazimnya mikroba ini tersedia secara komersial dalam bentuk spore strip. Kertas spore strip ini dimasukkan dalam autoklaf dan disterilkan. Setelah proses sterilisai lalu ditumbuhkan pada media. Jika media tetap bening maka menunjukkan autoklaf telah bekerja dengan baik.
B. Sterilisasi
Panas Kering
Sterilisasi panas kering biasanya dilakukan dengan
menggunakan oven pensteril karena panas kering kurang efektif untuk membunuh
mikroba dibandingkan dengan uap air panas maka metode ini memerlukan
temperature yang lebih tinggi dan waktu yang lebih panjang. Sterilisasi panas
kering biasanya ditetapkan pada temperature 160-1700C dengan waktu
1-2 jam.
Sterilisasi panas kering umumnya digunakan untuk
senyawa-senyawa yang tidak efektif untuk disterilkan dengan uap air panas,
karena sifatnya yang tidak dapat ditembus atau tidak tahan dengan uap
air.Senyawa-senyawa tersebut meliputi minyak lemak, gliserin (berbagai jenis
minyak), dan serbuk yang tidak stabil dengan uap air.Metode ini juga efektif
untuk mensterilkan alat-alat gelas dan bedah.
Karena suhunya sterilisasi yang tinggi sterilisasi panas
kering tidak dapat digunakan untuk alat-alat gelas yang membutuhkan keakuratan
(contoh:alat ukur) dan penutup karet atau plastik.
C. Sterilisasi
dengan penyaringan
Sterilisasi dengan penyaringan dilakukan untuk
mensterilisasi cairan yang mudah rusak jika terkena panas atu mudah menguap
(volatile). Cairan yang disterilisasi dilewatkan ke suatu saringan (ditekan
dengan gaya sentrifugasi atau pompa vakum) yang berpori dengan diameter yang
cukup kecil untuk menyaring bakteri. Virus tidak akan tersaring dengan metode
ini.
D. Sterilisasi
gas
Sterilisasi
gas digunakan dalam pemaparan gas atau uap untuk membunuh mikroorganisme dan
sporanya. Meskipun gas dengan cepat berpenetrasi ke dalam pori dan serbuk
padat. Sterilisasi adalah fenomena permukaan dan mikroorganisme yang terkristal
akan dibunuh. Sterilisasi gas biasanya digunakan untuk bahan yang tidak bisa
difiltrasi, tidak tahan panas dan tidak tahan radiasi atau cahaya.
E. Sterilisasi
dengan radiasi
Radiasi sinar gama atau partikel elektron dapat digunakan
untuk mensterilkan jaringan yang telah diawetkan maupun jaringan segar. Untuk
jaringan yang dikeringkan secara liofilisasi, sterilisasi radiasi dilakukan
pada temperatur kamar (proses dingin) dan tidak mengubah struktur jaringan,
tidak meninggalkan residu dan sangat efektif untuk membunuh mikroba dan virus
sampai batas tertentu. Sterilisasi jaringan beku dilakukan pada suhu -40o
Celsius. Teknologi ini sangat aman untuk diaplikasikan pada jaringan biologi.
Hal-hal
yang perlu diperhatikan pada sterilisasi, di antaranya:
1.
Sterilisator (alat untuk mensteril) harus siap pakai, bersih dan masih
berfungsi.
2.
Peralatan yang akan disterilisasi harus dibungkus dan diberi label yang jelas
dengan menyebutkan jenis peralatan, jumlah, tanggal pelaksanaan steril.
3.
Penataan alat harus berprinsip semua bagian dapat steril.
4.
Tidak boleh menambah peralatan dalam sterilisator sebelum waktu mensteril
selesai.
5.
Memindahkan alat steril ke dalam tempatnya dengan korentang steril.
6.
Saat mendinginkan alat steril tidak boleh membuka pembungkusnya, bila terbuka
harus dilakukan sterilisasi ulang.
F. Desinfeksi
Desinfeksi
adalah proses pembuangan semua mikroorganisme patogen pada objek yang tidak
hidup dengan pengecualian pada endospora bakteri. Desinfeksi juga dikatakan
suatu tindakan yang dilakukan untuk membunuh kuman patogen dan apatogen tetapi
tidak dengan membunuh spora yang terdapat pada alat perawatan ataupun
kedokteran. Desinfeksi dilakukan dengan menggunakan bahan desinfektan melalui
cara mencuci, mengoles, merendam dan menjcmur dengan tujuan mencegah terjadinya
infeksi, dan mengondisikan alat dalam keadaan siap pakai.
Kemampuan
desinfeksi ditentukan oleh waktu sebelum pembersihan objek, kandungan rat
organik, tipe dan tingkat kontaminasi mikroba, konsentrasi dan waktu pemaparan,
kealamian objek, suhu, dan derajat keasaman (pH).
Disinfektan
yang tidak berbahaya bagi permukaan tubuh dapat digunakan dan bahan ini
dinamakan antiseptik. Antiseptik adalah zat yang dapat menghambat atau
menghancurkan mikroorganisme pada jaringan hidup, sedang desinfeksi digunakan
pada benda mati. Desinfektan dapat pula digunakan sebagai antiseptik atau
sebaliknya tergantung dari toksisitasnya.
Desinfektan
akan membantu mencegah infeksi terhadap pasien yang berasal dari peralatan
maupun dari staf medis yang ada di RS dan juga membantu mencegah tertularnya
tenaga medis oleh penyakit pasien. Disinfektan dapat membunuh mikroorganisme
patogen pada benda mati.
Kriteria
desinfeksi yang ideal:
1.
Bekerja dengan cepat untuk menginaktivasi mikroorganisme pada suhu kamar
2.
Aktivitasnya tidak dipengaruhi oleh bahan organik, pH, temperatur dan
kelembaban
3.
Tidak toksik pada hewan dan manusia
4.
Tidak bersifat korosif
5.
Tidak berwarna dan meninggalkan noda
6.
Tidak berbau/ baunya disenangi
7.
Bersifat biodegradable/ mudah diurai
8.
Larutan stabil
9. Mudah digunakan dan
ekonomis
10. Aktivitas berspektrum luas
Tujuan dari sterilisasi dan desinfeksi adalah:
- Mencegah
terjadinya infeksi
- Mencegah
makanan menjadi rusak
- Mencegah
kontaminasi mikroorganisme dalam industry
- Mencegah
kontaminasi terhadap bahan- bahan yg dipakai dalam melakukan biakan murni.
Hasil proses desinfeksi dipengaruhi
oleh beberapa faktor:
·
Beban organik (beban biologis) yang dijumpai pada benda.
·
Tipe dan tingkat kontaminasi mikroba.
·
Pembersihan/dekontaminasi benda sbelumnya.
·
Konsentrasi desinfektan dan waktu pajanan.
·
Struktur fisik benda.
Terdapat
3 tingkat desinfeksi:
·
Desinfeksi tingkat tinggi
·
Membunuh semua organisme dengan perkecualian spora bakteri.
·
Desinfeksi tingkat sedang
·
Membunuh bakteri kebanyakan jamur kecuali spora bakteri.
·
Desinfeksi tingkat rendah
Membunuh kebanyakan bakteri beberapa virus dan beberapa
jamur tetapi tidak dapat membunuh
mikroorganisme yang resisten seperti basil tuberkel dan spora bakteri.
2.7 Pencegahan Infeksi
Prinsip Pencegahan infeksi
1. Beberapa
definisi dalam pencegahan infeksi, antara lain adalah:
a) Antiseptik
Antiseptik adalah usaha mencegah
infeksi dengan cara membunuh atau menghambat pertumbuhan mikroorganisme pada
kulit atau jaringan tubuh lainnya.
b) Aseptik
Aseptik adalah semua usaha yang
dilakukan dalam mencegah masuknya mikroorganisme ke dalam tubuh yang mungkin
akan menyebabkan infeksi. Tujuannya adalah mengurangi atau menghilangkan jumlah
mikroorganisme, baik pada permukaan benda hidup maupun benda mati agar
alat-alat kesehatan dapat digunakan dengan aman.
c) Dekontaminasi
Dekontaminasi adalah tindakan yang
dilakukan untuk memastikan bahwa petugas kesehatan dapat menangani secara aman
benda-benda (peralatan medis, sarung tangan, meja pemeriksaan) yang
terkontaminasi darah dan cairan tubuh. Cara memastikannya adalah segera
melakukan dekontaminasi terhadap benda - benda tersebut setelah
terpapar/terkontaminasi darah atau cairan tubuh
d) Desinfeksi
Tindakan yang tindakan menghilangkan
sebagian besar mikroorganisme penyebab penyakit dari benda mati.
e) Desinfeksi
Tingkat Tinggi (DTT)
Suatu proses yang menghilangkan
mikroorganisme kecuali beberapa endospora bakteri pada benda mati dengan
merebus, mengukus, atau penggunaan desinfektan kimia.
f)
Mencuci dan membilas
Suatu proses yang secara fisik
menghilangkan semua debu, kotoran, darah, dan bagian tubuh lain yang tampak
pada objek mati dan membuang sejumlah besar mikro organisme untuk mengurangi
resiko bagi mereka yang menyentuh kulit atau menangani benda tersebut (proses
ini terdiri dari pencucian dengan sabun atau deterjen dan air, pembilasan
dengan air bersih dan pengeringan secara seksama).
g) Sterilisasi
Sterilisasi adalah tindakan yang
dilakukan untuk menghilangkan semua mikroorganisme (bakteri, virus, jamur,
parasit), termasuk endospora bakteri pada benda-benda mati atau instrument.
2. Prinsip-prinsip
pencegahan infeksi yang efektif berdasarkan:
o Setiap orang (ibu, bayi baru lahir,
penolong persalinan) harus dianggap dapat menularkan penyakit karena infeksi
yang terjadi bersifat asimptomatik (tanpa gejala).
o Setiap orang harus dianggap beresiko
terkena infeksi.
o Permukaan tempat pemeriksaan,
peralatan dan benda-benda lain yang akan dan telah bersentuhan dengan kulit tak
utuh, selaput mukosa, atau darah harus dianggap terkontaminasi sehingga setelah
selesai digunakan harus dilakukan proses pencegahan infeksi secara benar.
o Jika tidak diketahui apakah
permukaan, peralatan atau benda lainnya telah diproses dengan benar, harus
dianggap telah terkontaminasi.
o Resiko infeksi tidak bisa
dihilangkan secara total tetapi dapat dikurangi hingga sekecil mungkin dengan
menerapkan tindakan-tindakan pencegahan infeksi yang benar dan konsisten.
3. Tindakan-tindakan
pencegahan infeksi meliputi :
o Pencucian tangan.
o Penggunaan sarung tangan.
o Penggunaan cairan antiseptic untuk
membersihkan luka pada kulit.
o Pemrosesan alat bekas pakai
(dekontaminasi, cuci dan bilas, desinfeksi tingkat tinggi atau sterilisasi).
o Pembuangan sampah.
BAB III
PENUTUP
1.1 Kesimpulan
Infeksi yang muncul selama seseorang
tersebut dirawat di rumah sakit dan mulai menunjukkan suatu gejala selama
seseorang itu dirawat atau setelah selesai dirawat disebut infeksi nosokomial.
Infeksi nosokomial banyak terjadi di seluruh dunia dengan kejadian terbanyak di
negara miskin dan negara yang sedang berkembang karena penyakit-penyakit
infeksi masih menjadi penyebab utama.
Faktor Penyebab perkembangan infeksi nosokomial yaitu Agen infeksi, Respon dan
toleransi tubuh pasien, Infeksi melalui kontak langsung dan tidak
langsung, Resistensi antibiotika dan Faktor alat. Sterilisasi merupakan upaya
pembunuhan atau pengahancuran semua bentuk kehidupan mikroba yang dilakukan dirumah
sakit melalui proses fisik maupun kimiawi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar