Jumat, 11 Juli 2014

sakitnya disini....

the pain
aku ingat saat berjalan dengan indah bak pangeran berjubah. Seketika, terasa aliran listrik menyengat relung didalam dadaku. Dan aliran itu semakin deras kurasakan ketika mata kita bertemu dalam satu pandangan. apakah aku menyukaimu pada saaat pandangan pertama? tentu saja. Siapa yang tak akan terpesona pada sosok dan parasmu. Berrtubuh jangkung berisi dan kokoh. Kau tidak mempunyai sorot mata elang yang mampu membuatku bertekuk lutut padamu. Namun teduh tatapanmu tak pernah membuatku bosan memandangnya. Bibir tipus yang menggoda. Kulit halus sawo matang dan bertubuh tegap. Menurut pendapat orang. Ketampanan adalah suatu hal yang relatif namun bagiku, sempurna adalah nilai yang kuberikan untuk rupamu.
dan akhirnya, tangan kita berjabar. Jemari kita saling bertaut. disusul oleh suara lembut yang terucap melalui bibir tipismu. Menangkap jati dirimu. Ferry Norila. itulah namamu.Lagi, sengatan itu mengalir dalam setiap saraf dan otot dalam tubuhku. dan ketika sosokmu menghilang dibalimk keramaian. nama dan rupamu semakin jelas terekam dalam memoriku.
satu tahun sudah kita lewati dari pertama mata ini memujamu. waktu yang lebih dari cukup untuk membuat dirimu dan diriku menjadi sepasang karib. dirimu yang dewasa mampu menjadi sandaran yang manja. Satu tahun bersama sebagai sahabat membuat banyak hal yang telah kita bagi bersama. canda tawa, tangis duka, dan getitnya asam kehidupan yang telah kita bagi bersama. namun apakah kau tau, benih benih yang satu tahun yang lalu tertanam dihatiku kini telah tumbuh. berakar dan bercabang. seringkali aku mencoba untuk menabangnya, namun semakin panjangnya pula jalarnya yang merambat.
terkadang dedaunannya menggelitik hatiku untuk mengungkap keberadaan inangnya. agar ia mampu tumbuh bebas. Namun logikaku terus menimbang akan kemungkinan layunya ia sebelum berbuah. maka aku tetap menyimpannya dalam ladang sempit dihatiku.
suatu malam  kita duduk bersama, mencoba membunuh gulita dengan canda dan tawa. seperti biasa. ditemani kilau bintang dan remang purnama. namun tiba-tiba kau terdiam ditengah tawa yang sedang menggema. ketika aku menatapmu, ternyata matamu telah mengunci diriku terlebih dahulu. tak dapat aku terjemahkan arti dari tatapanmu. dan bibirmu juga tak kunjung bersuara. perlahan wajahmu semakin mendekat. membuat detak janhtungku semakin menggila. tubuhku pun membeku, ketuka bibr tipismu menyentuh lembut bibrku. aku hanya terdiam tanpa mampu membalas. akhirnya kau menarik lagi tubuhmu. dan kembali menatap lekat bola mataku. bibirmu akhirnya bergerak, bersuara, berucap "aku mencintaimu!".
jangan tanya tentang apa yang aku rasakan. bahagia? lebih dari sekedar kebahagiaan yang aku rasakan. cinta yang selama ini terpendam terbalas sudah. landing cintaku kini kita lewati. kembali mencoba menaklukan dunia. meski kini sedikit bebeda. kau bukanlah sahabat kkaribku lagi, melainkan kekasihku. Kini aku bebas mencium bibir tipismu atau hanya sekedar memeluk tubuh tegapmu. Terasa begitu indah duniaku kini.
Namun tiada tawa tanpa duka. dan kebahagiaan tanpa kepedihan. Roda kehidupan selalu berputar. Menaikan mereka yang dibawah. Dan menurunkan ia yang tengah berada diatas. Masalah selalu menjadi teman kehidupan. Termasuk untuk hiduypku. aku jatuh tersungkur. Tatkala seorang dari masa lalu mengungkap jati diriku pada keluargaku. Tak terelakan lagi, muka kedua orang tua menanti didepan mata. Namun dirimu tetap setia berdiri disampingku. Menjadi penguat atas lemmahnya diriku.
Tertatih aku bangkit dari keterpurukan. Dengan dirimu sebagai sandaran. Dan saat itu aku tahu, tiada satu hal apapun yang mampu menjatuhkanku bila dirimu disisiku. Dan bahagia berhasil kurengkuh kembali bersamamu. Bertahun-tahun kita bersama. Merajut cinta. Meraih mimpi. mengukir cerita. Memang, cerita cinta kita tak selalu berisi narasi kata bahagia.Karena tak jarang pula masalah hadir memicu amarah. Namun kita selalu berusaha menaklukan ego, meski tak jarang kita harus berpisah untuk menciptakan kata damai.
Ah...terasa begitu indah cerita kita. Namuntak seindah kata-kata sang pujangga. Namun mambuat iri beribu pasang mata. Sempurna. Tak berlebihan  bila aku menganggap dirimu sempurna. Kesempurnaa dengan cara dan jalan yang kau miliki. Namun kesempurnaa yang kau miliki seketika luntur. lenyap tak berbekas. Tatkala aku melihat dirimu tengah bermain cinta dengan seorang entah siapa. Ditempat yang menjadi saksi untuk indahnya malam yang kita telah kita lewati bersama.
Seketika tersa berpuluh kilo beban jatuh menghantam ubun-ubun keepalaku. Segala daya lenyap tak terbekas. Badannku berggetar hebat, menahan segala rasa dan tanya yang semakin kencang memutar mengitari pusat pikiranmu. Tak berucap. Tak bersuara.
Perpuitaranroda kehidupan kembali menghampiri takdirku. Menjatuhkan diriku yang tengfah melambung tinggi. Sakit tak terkira kurasakan didalam jiwa. mengusir segala rasa yang hendak menghampiri sukma. Mega senja kini telah berganti gulita malam. Menyesakan setiap rongga dalam dada.
Padang cinta berhias bunga kini telah tiadda. Direnggut paksa oleh badai penuh nista. Jangankan benih yang telah tertanam, kelopaknya pun sudah tak dapat kutemukan. Yang adaa hanyalah kerikil yang semakin membuat perih setiap jejak yang menapak.
Dan kini kau berada dihadapanku. Berlutut dengan tunduk kepalamu. Menucap beribu kata maaf. dan mengulang beratus penyesalan. mengharap cinta yang akarnya telah kau cabut paksa. Meminta hati yang telah kau hancurkan hingga berkeping. Diriku bertanya, bagaimana aku bisa memberikan kembali hatiku padamu, bila hingga kini serpihannya pun tak mampu aku satukan. Andai saja kau mengerti. Mengobati hati yang tersakiti tak semudah memberi maaf untuk kata yang salah terucap.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar