Apa
HIV itu?
Sekilas mengenai sistem kekebalan tubuh
Apa AIDS itu?
Apa perbedaan antara HIV dan AIDS?
Apa stadium infeksi itu?
Apa terapi antiretroviral itu?
Dari mana asalnya HIV?
Apa tes HIV itu?
Bagaimana HIV menular?
Bagaimana HIV tidak dapat ditularkan?
Apa yang dimaksud dengan perilaku berisiko tinggi?
Apa artinya seks yang lebih aman?
Apa artinya pengurangan dampak buruk narkoba?
Apa yang dimaksud dengan ‘HIV Stop di Sini’?
Sekilas mengenai sistem kekebalan tubuh
Apa AIDS itu?
Apa perbedaan antara HIV dan AIDS?
Apa stadium infeksi itu?
Apa terapi antiretroviral itu?
Dari mana asalnya HIV?
Apa tes HIV itu?
Bagaimana HIV menular?
Bagaimana HIV tidak dapat ditularkan?
Apa yang dimaksud dengan perilaku berisiko tinggi?
Apa artinya seks yang lebih aman?
Apa artinya pengurangan dampak buruk narkoba?
Apa yang dimaksud dengan ‘HIV Stop di Sini’?
HIV berarti Human Immunodeficiency Virus.
HIV hanya menular antar manusia. Ada virus yang serupa yang menyerang hewan,
tetapi virus ini tidak dapat menular pada manusia, dan HIV tidak dapat menular
hewan. HIV menyerang sistem kekebalan tubuh, yaitu sistem yang melindungi tubuh
terhadap infeksi.
Karena pada tahun-tahun pertama setelah
terinfeksi tidak ada gejala atau tanda infeksi, kebanyakan orang yang
terinfeksi HIV tidak mengetahui bahwa dirinya telah terinfeksi. Segera setelah
terinfeksi, beberapa orang mengalami gejala yang mirip gejala flu selama
beberapa minggu. Penyakit ini disebut sebagai infeksi HIV primer atau akut. Selain itu tidak ada tanda infeksi
HIV. Tetapi, virus tetap ada di tubuh dan dapat menular pada orang lain.
Sistem kekebalan tubuh kita bertugas untuk
melindungi kita dari penyakit apa pun yang setiap hari menyerang kita dari
luar. Salah satu unsur yang penting dalam sistem kekebalan tubuh adalah sel
CD4, salah satu jenis sel darah putih. Namun sel CD4 dibunuh oleh HIV saat
menggandakan diri dalam darah. Semakin lama kita terinfeksi HIV, semakin banyak
sel CD4 dibunuh, sehingga jumlah sel tersebut menjadi semakin rendah. Dengan
semakin sedikit sel CD4, kemampuan sistem kekebalan untuk melindungi kita dari
infeksi juga semakin rendah.
Oleh karena itu, kesehatan sistem
kekebalan tubuh dapat dinilai dengan mengukur jumlah sel CD4. Pada orang yang
tidak terinfeksi HIV, jumlah sel CD4 berkisar antara 500 dan 1.500. Setelah
kita terinfeksi HIV, jumlah ini mulai menurun.
AIDS berarti Acquired Immune Deficiency Syndrome. Mendapatkan infeksi HIV menyebabkan
sistem kekebalan menjadi semakin lemah. Keadaan ini akan membuat orang mudah
diserang oleh beberapa jenis penyakit (sindrom) yang kemungkinan tidak
mempengaruhi orang dengan sistem kekebalan tubuh yang sehat. Penyakit tersebut
disebut sebagai infeksi oportunistik. Infeksi oportunistik termasuk jamur pada mulut,
jenis kanker yang jarang, dan penyakit tertentu pada mata, kulit dan sistem
saraf.
Seorang yang terinfeksi HIV dapat tetap sehat
bertahun-tahun tanpa ada tanda fisik atau gejala infeksi. Orang yang terinfeksi
virus tersebut tetapi tanpa gejala adalah ‘HIV-positif’ atau mempunyai
‘penyakit HIV tanpa gejala.’
Apabila gejala mulai muncul, orang disebut
mempunyai ‘infeksi HIV bergejala’ atau ‘penyakit HIV lanjutan.’ Pada stadium
ini seseorang kemungkinan besar akan mengembangkan infeksi oportunistik. ‘AIDS’
merupakan definisi yang diberikan kepada orang terinfeksi HIV yang masuk pada
stadium infeksi berat.
AIDS didefinisi sebagai:
- jumlah sel CD4 di bawah 200; dan/atau
- terjadinya satu atau lebih infeksi oportunistik
tertentu
Istilah AIDS terutama dipakai untuk
kepentingan kesehatan masyarakat, sebagai patokan untuk laporan kasus. Sekali
kita dianggap AIDS, berdasarkan gejala dan/atau status kekebalan, kita
dimasukkan pada statistik sebagai kasus, dan status ini tidak diubah walau kita
menjadi sehat kembali. Oleh karena itu, istilah AIDS tidak penting buat kita
sebagai individu.
Orang terinfeksi HIV (atau disebut Odha)
yang mempunyai semakin banyak informasi, dukungan dan perawatan medis yang baik
dari tahap awal penyakitnya akan lebih berhasil menangani infeksinya. Terapi
antiretroviral (ART) yang sekarang semakin terjangkau dapat memperlambat
kecepatan penggandaan HIV; obat lain dapat mencegah atau mengobati infeksi yang
disebabkan HIV.
WHO, organisasi kesehatan sedunia,
membentuk sistem untuk menggolongkan tahap penyakit HIV berdasarkan tanda dan
gejala dalam empat stadium:
- Stadium 1: tanpa gejala
- Stadium 2: penyakit ringan
- Stadium 3: penyakit lanjutan
- Stadium 4: penyakit berat
Dulu AIDS dan penyakit HIV dikenal sebagai
penyakit yang mematikan dan yang tidak ada obatnya. Sekarang zaman sudah
berubah! Walaupun infeksi HIV masih belum dapat disembuhkan, ada obat yang
dapat menekan penggandaan virus itu dalam darah kita sehingga jumlah virus
menjadi sangat rendah. Obat tersebut dikenal sebagai antiretroviral (ARV), dan
umumnya kita harus memakai tiga macam obat bersamaan, yang disebut
sebagai terapi antiretroviral (ART).
ART yang tersedia saat ini di Indonesia
umumnya harus dipakai dua kali sehari dengankepatuhan tinggi. Karena HIV tetap ada di tubuh kita, dan tanpa obat akan mulai
menggandakan diri lagi, ART harus dipakai untuk seumur hidup. Namun ada harapan
dalam beberapa tahun, kita hanya harus memakai obat sekali sehari, dan kemudian
(mungkin 15 tahun lagi?) akan berbentuk satu suntikan sebulan sekali.
Walaupun kita memakai ART, dan walaupun
jumlah virus dalam darah kita menjadi sangat rendah (di bawah tingkat yang
dapat diukur), kita masih dapat menularkan HIV kita pada orang lain melalui
perilaku berisiko.
Tidak ada seorang pun yang tahu asal HIV, cara kerja yang sesungguhnya atau bagaimana HIV dapat diberantas dari
tubuh seseorang. Di setiap negara, waktu laporan infeksi HIV pertama muncul,
orang menyalahkan kelompok yang sudah terpinggirkan (dan oleh karena itu pada
umumnya lebih mudah diserang infeksi HIV, karena kemiskinan dan tidak
terjangkau oleh layanan dan informasi). Biasanya yang disalahkan adalah orang
‘dari luar’ atau yang penampilannya atau perilakunya ‘berbeda’. Semua itu
membawa masalah saling menyalahkan dan prasangka. Artinya juga bahwa banyak
orang menganggap bahwa hanya orang dalam kelompok ini berisiko tertular HIV dan
bahwa ‘itu tidak mungkin terjadi pada saya.’ Ketidakpastian mengenai asal
usulnya HIV dan siapa yang terpengaruh oleh HIV juga membuat orang bahkan siap
menyangkal bahwa HIV sebetulnya ada di antaranya.
Tes HIV menemukan antibodi terhadap HIV dalam darah. Antibodi itu dibuat oleh
sistem kekebalan tubuh sebagai reaksi terhadap infeksi oleh virus tersebut.
Apabila tidak ada antibodi, seseorang disebut sebagai antibodi negatif
(seronegatif atau HIV-negatif). Hasil tes dapat negatif (atau disebut
‘non-reaktif’) apabila seseorang baru saja terinfeksi, karena setelah
terinfeksi pembentukan antibodi makan waktu sampai tiga bulan. Masa antara
infeksi dan terbentuknya cukup banyak antibodi untuk menunjukkan hasil tes
positif disebut ‘masa jendela’.
Bila hasil tes HIV adalah negatif, tetapi
yang bersangkutan sudah berperilaku berisiko terinfeksi HIV dalam tiga bulan
sebelum dites, dia mungkin masih dalam masa jendela, dan hasil tes mungkin
tidak benar. Oleh karena itu, dalam keadaan ini, orang tersebut harus dites
ulang, paling cepat tiga bulan setelah peristiwa berisiko terakhir.
Kalau kita berminat untuk melakukan tes
HIV, kita harus diberikan penyuluhan (konseling) sebelum dan setelah tes HIV.
Tes HIV tidak boleh dilakukan tanpa persetujuan berdasarkan informasi lengkap (informed
consent) dari yang bersangkutan.
HIV terdapat di darah seseorang yang
terinfeksi (termasuk darah haid), air susu ibu, air mani dan cairan vagina.
- Pada saat berhubungan seks tanpa kondom, HIV
dapat menular dari darah, air mani atau cairan vagina orang yang
terinfeksi langsung ke aliran darah orang lain, atau melalui selaput
lendir (mukosa) yang berada di vagina, penis, dubur atau mulut.
- HIV dapat menular melalui transfusi darah yang
mengandung HIV; saat ini darah donor seharusnya diskrining oleh Palang
Merah Indonesia (PMI), sehingga risiko terinfeksi HIV melalui transfusi
darah seharusnya rendah, walau tidak nol.
- HIV dapat menular melalui alat suntik (misalnya
yang dipakai secara pergantian oleh pengguna narkoba suntikan), melalui
alat tindakan medis, atau oleh jarum tindik yang dipakai untuk tato, bila
alat ini mengandung darah dari orang yang terinfeksi HIV.
- HIV dapat menular pada bayi saat kehamilan,
kelahiran, dan menyusui. Bila tidak ada intervensi, kurang lebih sepertiga
bayi yang dilahirkan oleh seorang ibu dengan HIV akan tertular.
HIV agak sulit menular, dan tidak menular
setiap kali terjadi peristiwa berisiko yang melibatkan orang terinfeksi HIV.
Misalnya, walau sangat berbeda-beda, rata-rata hanya akan terjadi satu
penularan HIV dari laki-laki yang terinfeksi pada perempuan yang tidak
terinfeksi dalam 500 kali berhubungan seks vagina. Namun penularan satu kali
itu dapat terjadi pada kali pertama.
Risiko penularan HIV dari seks melalui dubur adalah lebih tinggi, dan
penularan melalui penggunaan jarum suntik bergantian lebih tinggi lagi. Risiko
penularan dari seks oral lebih rendah, tetapi tetap ada.
HIV hanya dapat hidup di dalam tubuh
manusia yang hidup dan hanya bertahan beberapa jam saja di luar tubuh.
- HIV tidak dapat menular melalui air ludah, air
mata, muntahan, kotoran manusia dan air kencing, walaupun jumlah virus
yang sangat kecil terdapat di cairan ini. HIV tidak ditemukan di keringat.
- HIV tidak dapat menembus kulit yang utuh dan
tidak menyebar melalui sentuhan dengan orang yang terinfeksi HIV, atau
sesuatu yang dipakai oleh orang terinfeksi HIV; saling penggunaan perabot
makan atau minum; atau penggunaan toilet atau air mandi bergantian.
- Perawatan seseorang dengan HIV tidak membawa
risiko apabila tindakan pencegahan diikuti seperti membuang jarum suntik
secara aman dan menutupi luka.
- HIV tidak menular melalui gigitan nyamuk atau
serangga pengisap darah yang lain. Kebanyakan serangga tidak membawa darah
dari satu orang ke orang lain ketika mereka menggigit manusia. Parasit
malaria memasuki aliran darah dalam air ludah nyamuk, bukan darahnya.
Yang dimaksud adalah melakukan sesuatu
yang membawa risiko tinggi terkena infeksi pada dirinya atau orang lain. Kita
biasanya tidak tahu siapa terinfeksi HIV dan siapa yang tidak, jadi kegiatan
berikut termasuk berisiko tinggi:
- berhubungan seks dengan memasuki vagina, dubur
atau mulut tanpa memakai kondom. Laki-laki dengan HIV dapat menulari baik
pasangan laki-laki maupun perempuan saat berhubungan seks melalui dubur
tanpa perlindungan
- memakai jarum suntik dan semprit (insul), atau
alat tindakan medis yang tidak steril, yang mungkin tercemar oleh darah
orang lain, baik pada dirinya maupun orang lain
- menerima transfusi darah yang terinfeksi
Seks yang lebih aman adalah setiap
hubungan seks yang tidak berkaitan dengan air mani, cairan vagina dan darah
yang masuk tubuh orang lain atau menyentuh kulit terluka, misalnya:
- kegiatan seks tanpa penetrasi – dengan merangsang
alat kelamin kita atau pasangan kita (onani), seks paha, memijat atau
mencium
- memakai kondom dengan pelicin berbahan dasar air
(misalnya KY Jelly atau Pelicin Sutra, dari awal sampai
akhir waktu berhubungan seks melalui vagina atau dubur
- risiko seks oral (kontak mulut dengan alat kelamin
laki-laki atau perempuan) lebih rendah dibandingkan hubungan seks dengan
penetrasi vagina atau dubur tanpa kondom
- tidak berhubungan seks (menahan nafsu) adalah
aman
Pengurangan dampak buruk narkoba (harm
reduction) adalah tindakan yang dilakukan untuk mengurangi risiko
terjadinya penularan melalui penggunaan narkoba. Dasar pemikirannya adalah:
- Sebaiknya kita tidak memakai narkoba sama sekali.
Namun bila penggunaan narkoba tidak dapat dihindari:
- Sebaiknya kita tidak memakai narkoba dengan cara
suntik (termasuk memanfaatkanprogram terapi rumatan metadon/PTRM). Namun bila penggunaan dengan menyuntik
tidak dapat dihindari:
- Sebaiknya kita selalu memakai jarum suntik yang
baru setiap kali kita menyuntik. Namun bila tidak tersedia jarum suntik
baru:
- Sebaiknya kita tidak memakai jarum suntik
bergantian – hanya kita sendiri yang memakai jarum milik sendiri. Namun
bila harus memakai jarum suntik bergantian:
- Membersihkan jarum dan semprit dengan pemutih
sebelum dipakai oleh orang lain.
Kebanyakan orang yang terinfeksi HIV
sangat tidak ingin orang lain juga mengalami nasib yang sama. Oleh karena itu,
apabila kita terinfeksi HIV, adalah sangat penting kita mempraktekkan seks yang
lebih aman, serta tindakan pengurangan dampak buruk narkoba, yang secara
keseluruhan disebut sebagai ‘HIV Stop di Sini’, agar:
- mencegah penularan HIV ke orang yang HIV-negatif
atau yang tidak tahu status HIV-nya
- menjauhkan diri dari infeksi menular seksual
(IMS) lain, seperti kencing nanah (gonore) atau sifilis, atau infeksi lain
yang menular melalui darah
- mencegah penularan HIV ulang (reinfection),
yaitu ditulari jenis atau subtipe HIV yang lain atau dengan HIV yang sudah resistan (kebal) terhadap obat
Disesuaikan Pemberdayaan Positif, Lembaran
Informasi No. 1
Edit terakhir: 7 Januari 2009
Tidak ada komentar:
Posting Komentar